Artikel ini repost dari Blognya Mas Bondan ( Bumiku Hijau ) . Atas ijin mas bondan kami repost karena artikel ini menarik , karena merupakan pengalaman langsung dari mas bondan dan kami sempat mengalami case yang hampir sama juga waktu nyoba berternak kambing etawa perah . Semoga pengalaman ini berguna untuk peternak pemula yang bermain di sektor bisnis kambing etawa perah .
” Pada dasarnya kambing itu juga punya perasaan, perasaan seperti kita-kita ini, manusia? Ini kisah nyata dari kandang kami “bumiku hijau etawa” di Jogjakarta.
Suatu ketika, 60 ekor kambing etawa yang kondisinya siap perah, yang setiap harinya minimal memproduksi susu 75 liter per hari, mendadak mogok produksi. Mereka hanya mengeluarkan susu maksimal 10 liter per hari. Wahhhh…. Ada apa nich?…. di curi? Tidak mungkin? Di racun? Tidak mungkin juga? Atau di guna-guna? Mana mempan, lha wong yang punya aja dukun….??? (tp bukan dukun cabul donk)
Wah, harus di koreksi nich? Tahap pengkoreksian mulai dari makanan kambingnya. Saya kumpulkan semua anak kandang, saya tanya ke mereka secara terpisah satu per satu, jawaban mereka “tetep pak, kami tidak mengganti porsi pada makanan ternak, kami lakukan tetap sesuai petunjuk bapak”, saya tanya masalah kebersihan kandang? Jawaban mereka, “tetep pak, kami tetep bersihkan kandang sehari 2 kali sesuai perintah bapak?”
Waduuuh, ada apa nich? Kok produksi susunya menurun tajam? Bayangkan saja, saya jual susu kambing per liternya 20.000 rupiah, lha kalau turunnya per hari sampai 60 liter, apa tidak puyeng. Rp.1.200.000/liter/hari. Logika saya tidak mungkin produksi susu akan turun secepat ini dan sebanyak ini. Bayangkan, masa sehari produksi susu biasa turun 60an liter per hari dalam waktu secepat ini? Ada apa nich ?
Selidik-punya selidik, (sewa Interpol nich ceritanya), ternyata si tukang perah kita itu sedang ada masalah dengan keluarganya. Jadi waktu dia memeras susu kambing, di saat tangan dia bersentuhan dengan putting kambing, di saat batin dia berhubungan dengan batin kambing, pengaruh itu ada. Bahkan fatal.
Setelah di beri masukan dan anak kandang tersebut berdamai dengan istrinya, makadalam tempo 2 hari produksi susu langsung kembali mendekati normal.
Subhanallah. Aneh, tapi nyata.
Saya baru sadar 1000% kalau hubungan batin kambing dengan anak kandang itu begitu besar. Ternyata tambah satu keyakinan saya bahwa yang membikin kambing itu bagus bukan hanya dari factor makanannya saja, bukan hanya dari factor kandangnya saja, bukan hanya dari factor perawatannya saja. Tetapi ada hal lain yang lebih berarti, yaitu hubungan batin. Memang makanan, kandang, dan perawatan merupakan factor utama dalam kita memelihara ternak, tetapi ada factor yang lebih pertama selain itu, yaitu perhatian dan kasih sayang peternak ke hewan ternakannya. Ajaklah kambing itu bicara waktu dia diperah susunya, nyanyikanlah lagu untuknya di waktu kita sedang memandikan kambing. Coba bandingkan hasilnya, anda akan tau perbedaannya dalam waktu dekat.
Ada beberapa tips aman dan jitu :
1. Cari pegawai yang hatinya baik, kalau biasa mukanya juga baik, biar kambing tidak sebel liat wajah anak kandang yang jelek-jelek apa lagi bau kerinatnya yang menyengat. Di jamin kambing akan senang.
2. Kalau ternyata di dapati pegawai kita sedang mempunyai masalah dengan siapapun juga, lebih baik anak kandang tersebut di beri waktu untuk cuti beberapa waktu, kasih kesempatan dia membenahi masalahnya. Nha kalau masalahnya juga tidak kunjung selesai ya di pecat, saja. Masalah produksi susu kita terselesaikan.
3. Perlakukan kambing secara manusiawi, bukan mesin. Ingat kambing juga punya hati dan perasaan. Kambing bukan mesin cetak uang kita saja. Lebih tepat mitra kali yeeeeeee
4. Mandikan dan jemur kambing sesering mungkin. Kalau memang memungkinkan pada waktu penjemuran, kambing dibiarkan terbebas dari ikatan tali. Biarkan kambing berlarian pada tempat umbaran yang kita siapkan. Karena kambing ternyata juga butuh sosialisasi dengan temannya.
5. Kalau memang memungkinkan, putarkan lagu kalasik/lagu yang kalem-kalem pada saat kita memeras susu kambing, biar kambing nyaman di saat putingnya kita perah.
6. Jangan terlalu sering merombak anak kandang. Usahakan pada saat pemerahan susu kambing, orang yang memerah susu adalah orang yang benar-bnar di kenal oleh kambing, minimal orang tersebut adalah orang yang sering berinteraksi langsung dengan kambing. Jangan orang baru.
7. Baju yang digunakan pada saat memerah, jangan sering ganti warna. Karena warna baju juga ternyata berpengaruh ke produksi susu.
Sekian dulu info ternak dari kita, ingat kasus ini sungguh nyata dan benar-benar pernah kami alami, kalau para insan peternak tidak kepengin kecolongan di produksi susu, maka hal tersebut diatas bisa menjadi perhatian “
Sumber : kambingetawa.blogspot.com
Penulis : Bondan Danu K ( Peternakan Bumiku Hijau )
Facebook : kambingetawa galery
Semoga Bermanfaat
BR//Kambingonline Crew
RSS Feed
Twitter
February 2nd, 2010
admin
Posted in
Tags: 



okelah kalo begitu…..
jadi, intinye semua orang yang berkecimpung disitu harus bersahabat dong bos…., klo bisa si anak kandang juga tidur dekat situ, gimana bos??hahaha….
trimakasih, saya membaca tulisan ini menjadi tertarik, dan saya anggap ini sebagai referensi yang penting, saya baru akan mencoba untuk ternak kambing, saat ini sedang merenovasi kandang, dan belum saya isi, kandang saya berada ditengah perkebunan di daerah pegunungan, kanan kiri masih tanah kosong, tetapi milik orang lain, rencana akan saya isi kurang lebih 50 ekor kambing untuk dikembangkan dan untuk dijadikan daging, apabila ada saran kami tunggu, mengingat saya belum pengalaman.
Mas hartono , daerah pegunungan memang potensial untuk beternak kambing karena stock makanan biasanya banyak . Brarti mas tono akan menjalankan bisnis penggemukan . Jadi beli saja bakalan usia 4 bulan dan digemukan dalam range 6 bulan kedepan. Perlu bangun juga pemasarannya mas dari sekarang . Kalo siklusnya ditepatkan dengan idul adha akan sangat menguntungkan juga ..
Om Bondan,
saya mencari buku referenci beternak kambing perah etawa.
saya sudah cek ke toko gramedia, kosong.
ada yg tahu harus kemana?
trima kasih,
wiyono.
MITOS YANG BERLAKU DI KANDANG
Saya mulai bergumul dengan kumpulan ternak sekitar tahun 80-an. Di peternakan kecil di Cirebon, disana terdapat aneka macam ternak, sapi perah, sapi pedaging yang digemukkan, ayam petelur, broiler, itik petelur dan itik manila. Kambing juga ada, domba ratusan jumlahnya.
Rumit juga, permasalahan selalu silih berganti. Sapi perah yang produksinya ambruk, kena mastitis sampai ada yang lumpuh. Ayam petelur tiba-tiba ngorok dan banyak kemaytian. Domba pun tak kalah rewel, mulai mencret sampai sembelit. Ada-ada saja, permasalahan.
Peternakan kecil itu ternyata permasalahan besar. Tidak ada hari tanpa masalah penyakit. Saya tidak habis pikir dan terus merenung, berpikir positif bahwa sesuatu pasti ada pemecahannya, sekaligus juga ada penyebabnya. Dan, menemukan penyebab akan lebih baik daripada menghabiskan segala sumber daya dan dana untuk pengobatan.
Alhamdulillah, sebuah pikiran tertuju beberapa anak kandang yang tinggal bersama keluarganya. Bukan masalah mereka hidup bersama, apalagi anak-anaknya. Sama sekali bukan, yang patut jadi catatan adalah campur dengan isteri. Karena terburu-buru memerah sebelum subuh mereka abaikan mandi wajib.
Untuk keadilan, semua anak kandang diperlakukan sama, mandi-total sebelum masuk komplek kandang. Alhamdulillah, satu-persatu permasalahan berhenti dan peternakan kecil itu bukan lagi gudang masalah.
Praktek bersih-diri ini saya terapkan juga ketika harus bertugas di sebuah test-farm. Berlaku untuk semua, yang beristri ataupun bujangan, dari manajer sampai penjaga keamanan, siang maupun malam (tentu disediakan air hangat).
Test farm itu, untuk pertama kalinya meraup keuntungan yang tidak sedikit. Setara dengan broiler commercial farm. Padahal awal tahun 90-an itu, Penyakit Gumboro melanda sedemikian tak terkendali.
Mungkin apa yang terjadi dan saya yakini kebenarannya itu hanya sekedar mitos bagi sebagian besar pembaca. Tetapi pengalaman membenarkannya. Satu pelajaran yang bisa dipetik paling tidak ketika anak kandang bersih maka tidak ada bibit penyakit yang masuk dari luar.
Bukankah bibit penyakit kebanyakan datang dari luar ?
Peluang bisnis susu kambing Hi-Goat Milk, baca info lengkapnya disini…
Dengan hormat,
Saya telah membaca tulisan Pak Bondan…..dimana bisa dijumpai?…..untuk nimba ilmu….atau email yg bisa nyambung…terima kasih atas bantuannya…wassalam
Pak Taufik , Berikut alamat beliau
Bumiku Hijau Jogjakarta
Jl. Ring Road Utara, Pandean Gandok, Condongcatur, Depok, Sleman, Jogjakarta, Indonesia.55283
email: bondandk@yahoo.co.id
mobile 081.2295.8595 or 081.704.268.49
cq : Bondan Danu Kusuma,SE
duit lagi duit lagi hehe